Friday, February 28, 2014

Nusantaranger Buku #01: Elang Review


Nusantaranger adalah sebuah web-comic yang digagas oleh @ShaniBudi, yang terbit tiap tanggal satu dan 15 tiap bulannya. Berangkat dari landasan super sentai (atau Power Rangers untuk sebagian orang), Nusantaranger berkisah tentang lima pemuda Indonesia yang diberi kekuatan khusus dari lima pulau besar di Indonesia untuk melawan Kelana, entitas jahat yang ingin menguasai Marcapada*. 

Dengan cerita oleh @keinesasih dan gambar oleh @SwetaKartika, Nusantaranger direncanakan terdiri dari lima buku untuk masing-masing ranger.

Pada tanggal satu Maret, buku satu Nusantaranger dengan judul “Elang” selesai. Setelah menahan diri untuk me-review per-chapter, gue putuskan untuk me-review setiap satu buku selesai  karena terasa lebih cocok dengan format borongan seperti ini. Well, here goes nothing...

(Spoilers ahead)

Chapter 01: Mimpi


Sebuah chapter perkenalan. Tidak hanya dengan Rangga si anak SMA dan takdir yang akan ia hadapi, tetapi juga dengan gambar Sweta Kartika yang khas.

Secara kasar bisa dikatakan chapter pertama ini adalah sebuah teaser besar: mimpi yang dialami Rangga memberi landasan cerita, tempat, dan hal yang akan dihadapi Rangga tanpa ruang untuk masuk ke dalam cerita Nusantaranger itu sendiri. Ditambah, jumlah halaman yang sedikit dibanding chapter-chapter selanjutnya.

Sebuah awal yang biasa-biasa saja, tetapi berhasil ditutup dengan menarik berkat panel terakhir.

Chapter 02: Kebangkitan

Di chapter inilah cerita Nusantaranger benar-benar dimulai (dengan jumlah halaman reguler) . Dibuka dengan memperlihatkan siapa yang akan Nusantaranger hadapi, tanpa benar-benar menceritakan mereka. Kekuatan musuhpun tidak lupa diperlihatkan secara sekilas.

Di chapter ini mimpi Rangga menjadi kenyataan. Melalui Ksatria Merah, ia diberikan latar belakang kekuatan yang akan ia terima serta musuh yang harus ia hadapi dan menerima alat pengubah.

Sikap Rangga yang ‘menerima begitu saja’ menjadi pertanyaan sebagian besar pembaca. Gue pribadi tidak memiliki masalah mengingat Rangga sendiri belum benar-benar merasakan tanggung jawab seperti apa yang akan ia terima.

Chapter 03: “Berubah!”

Seperti terlihat pada judulnya, pada chapter inilah kita melihat Rangga menjadi Nusa-Red untuk pertama kali demi bertarung dengan mosnter perdana Nusantaranger, dan pertama kali juga sebuah chapter diakhiri dengan halaman berwarna.

Adegan perubahan yang real-time menjaga pace komik berjalan dengan cepat dan tanpa basa-basi.
   
Walaupun baru terlihat di halaman terakhir, penggambaran secara penuh (dari ujung kaki hingga ujung kepala) membuat pembaca bisa menilai sendiri kostum Nusa-Red. Penggabungan unsur Indonesia dengan landasan kostum super sentai menghasilkan kombinasi yang menarik, keren, dan (dengan referensi yang gue miliki) belum pernah dilihat sebelumnya. Pemberian anting pada helm juga menambah kesan unik dan berbeda.

Chapter 04: Merah

Di sini (akhirnya!) kita bisa melihat Rangga bertarung dengan Jabba.

Adegan pertarungan digambarkan dengan cepat dan sederhana tanpa efek-efek yang berlebihan. Pertanyaan muncul saat Rangga terlihat terlalu hebat dalam bertarung (padahal baru pertama kali) tetapi monster yang tidak bisa dikalahkan dengan mudah, ditambah Rangga yang harus belajar satu-dua hal mengenai strategi dan kelemahan musuh menyeimbangi hal tersebut.

Overall gue puas dengan adegan bertarung yang hanya memakan satu chapter ini.
     
Chapter 05: Sang Ksatria

Sebuah chapter penutup, sebuah ruang untuk bernafas bagi kita para pembaca setelah mengikuti adegan pertarungan di chapter sebelumnya. Walaupun begitu, Rangga tidak memiliki waktu untuk bernafas karena teman yang gagal ia lindungi dan fakta bahwa sekarang ia akan menjadi seorang ksatria yang harus melindungi bumi. Dan sebagai ‘yang terpilih’, tentunya ia tidak bisa melepas tanggung jawab besar ini begitu saja (he tried though, literally).

Sayangnya, Rangga terlihat terlalu cepat bangkit dari keterpurukannya. Ksatria Merah kurang memberi ‘tamparan’ bahwa apa yang ia punya sekarang adalah sebuah tanggung jawab besar, yang mau tidak mau harus Rangga lakukan. Seandainya Ksatria Merah menceritakan sedikit tentang masa lalunya, mungkin sikap Rangga yang menerima takdirnya bisa terasa masuk akal.
Di chapter terakhir ini beberapa pertanyaan yang sudah muncul sejak chapter-chapter sebelumnya dijawab, untuk menimbulkan banyak pertanyaan lain. Mau tidak mau, kita hanya bisa menunggu buku selanjutnya muncul (sambil berspekulasi di Twitter).
Conclusion: Buku 01: Elang adalah sebuah permulaan yang menarik untuk diikuti. Dengan karakter-karakter yang masih akan terus bermunculan, petunjuk di sana-sini, dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul tiap chapter­-nya, pembaca bisa tertarik untuk terus mengikuti perkembangan Nusantaranger. Ditambah dengan referensi mengenai budaya Indonesia yang diselipkan dengan sangat baik ke dalam cerita, pembaca juga bisa belajar banyak melalui komik ini.



Sumber gambar: nusantaranger.com, print-screened
*dikutip dari nusantaranger.com
     

No comments:

Post a Comment