Sunday, March 30, 2014

Karena Kita Sudah Bayar

Hai, haloooo.

Nama gue Muhammad Harits, seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran di Jatinangor. Menonton film adalah satu dari sekian banyak hobi yang gue miliki. Sebagai orang yang hobi menonton film, tentunya gue tidak mau melewatkan penayangan The Raid 2: Berandal.

Maka gue tontonlah film tersebut pada hari dirilisnya, yakni Jumat, 28 Maret 2014 di Cihampelas Walk (Ciwalk), Bandung.

Untuk yang belum tahu, Berandal adalah sebuah film action yang merupakan sekuel dari The Raid: Redemption (2011). Sebagai film action, banyak adegan baku hantam di dalam film, tetapi tidak hanya itu, sendi yang patah, darah yang bercipratan, dan berbagai adegan kasar dan sadis lainnya, diperlihatkan secara jelas, membuat film ini diberi rating 17+. Hanya dengan menonton trailer-nya, penonton sudah bisa menggambarkan akan betapa sadisnya film ini.

Sutradaranya (Gareth Evans) sendiri sudah mengingatkan untuk tidak membawa anak-anak menonton The Raid 2: Berandal.


Setelah terpukau (hingga mata berkaca-kaca di dua adegan), gue memutuskan untuk menonton Berandal di bioskop lagi sebagai bentuk apresiasi.

Pada Hari Film Nasional, Minggu, 30 Maret 2014, gue bersama lima orang teman menonton Berandal di Jatinangor Town Square (Jatos)—satu-satunya tempat yang memiliki bioskop di Jatinangor, pada pukul 21.00.

Ternyata, hal ini menjadi sebuah pengalaman menonton film di bioskop yang sejauh ini paling unik dan mungkin tidak akan pernah gue lupakan.

(Mohon maaf sebelumnya, tetapi postingan ini bukanlah sebuah review The Raid 2: Berandal, melainkan murni pengalaman unik gue di bioskop, terima kasih.)

Sebelum dimulai, akan gue perkenalkan dua kubu di cerita ini:

Pertama, kubu “gue dan teman-teman” yang terdiri dari (dengan nama disamarkan) Gue (laki-laki/L), Biru (perempuan/P), Pink(P), Tua(L), Uda(L), dan terakhir, sebut saja Andi(L).

Kedua, kubu “keluarga” yang terdiri dari (dengan nama yang tidak gue ketahui tapi sebut saja) Suami, Istri, Tante, Nenek berhijab, dan DUA ORANG ANAK (kira-kira kelas tiga dan dua SD), Cilik 1 dan Cilik 2. Dan ditambah keterangan teman, mereka juga membawa seorang ANAK PEREMPUAN yang lebih muda dibanding Cilik 1 dan Cilik 2.

Now, let’s start the story, shall we?

Gue bersama teman duduk di barisan F, dari kursi nomor sembilan hingga 13, dengan gue yang duduk di kursi nomor 13, kecuali Andi yang harus terpisah (kursi 16F). Setelah duduk di kursi masing-masing, datanglah kubu keluarga yang sebelumnya sudah kami lihat dari sebelum masuk ke dalam teater satu, untuk duduk di barisan belakang kami.

Melihat mereka membawa anak kecil, teman saya, Biru dan Pink, kurang suka dengan keputusan keluarga tersebut yang membawa anak kecil dan mulai saling berbicara dengan nada yang semakin keras, dan diakhiri dengan kalimat “Mudah-mudah aja gak berisik”. Ternyata, si Nenek mendengar dan merasa tersinggung.

Dari titik ini kubu keluarga mengeluarkan kata-kata bernada keras (terkecuali si Suami) yang kira-kira seperti ini:

“Siapa tadi yang ngomong mudah-mudahan aja gak berisik?!”

“(bla bla bla)...gelo!”

Masak ngomong kayak gitu di depan anak kecil!”

“Kalau mau nonton VIP!”

“Kalau mau nonton sendiri di PVJ aja sana!”

“Kami udah bayar!”

“Ini kan tempat umum!”

“Siapa yang ngomong?!”

“Itu tuh yang jelek rambutnya dicat biru!”

“Udah jelek make kaca mata lagi!”

“Buta!”

(ke gue) “Ini nih, pacarnya si rambut biru cuma diem aja!”

“Mas, itu tolong pacarnya diajarin ngomong yang bener!”

Ditambah Cilik 1 dan Cilik 2 yang berteriak-teriak “Anjing! Anjing” dan beberapa kata kasar lainnya mengikuti sang Ibu, Nenek, dan Tante—sambil memukul-mukul kepala si Pink.

Masih dalam keadaan berteriak-teriak, gue menengok ke belakang untuk melihat Istri yang berteriak-teriak ke kubu gue, untuk ditahan duduk oleh Suami.

Setelah itu, Nenek turun ke barisan gue—sambil menunjuk-nunjuk—dan sepertinya berusaha mendekati Biru dan Pink yang duduk di sebelah kanan gue. Melihat gerakan Nenek, gue memutar badan gue, bertumpu dengan lutut di kursi, untuk mengajak Suami berbicara, berharap bisa menyelesaikan masalah ini (sebagai, setidaknya, sesama laki-laki), sambil mengarahkan tangan kanan ke arah Nenek tanda “cukup, sampai di situ saja.”

(Suami sama sekali tidak memberikan tanda-tanda untuk mendiamkan orang-orang yang ada di kubu dia.)

Si Suami memajukan badannya dan mendekatkan telinganya ke arah gue. Dengan tenang, gue berusaha menjelaskan—sambil mengarahkan tangan kanan gue ke arah Biru dan Pink sebagai tanda untuk diam agar orang-orang di dalam teater tidak menganggap kami sebagai pembuat keonaranbahwa teman saya salah dan mewakili mereka untuk meminta maaf, dan tidak perlu melanjutkan masalah ini. Dalam kesempatan itu, gue menjelaskan ke Suami bahwa Berandal adalah film yang berisi adegan kekerasan dan darah yang kemana-mana, dan rasanya kurang cocok ditonton anak-anak.

(Suami masih tidak memperlihatkan usaha untuk membuat orang-orang yang ada di kubunya untuk diam. Tidak sama sekali.)

Si Suami hanya diam dan merespon kira-kira seperti ini—tanpa melihat langsung ke mata gue:

“Harusnya temen mas/Anda/kamu yang minta maaf”

“Kita kan sudah sama-sama bayar di sini...”

“Gak enak kan kayak gini, malu sama yang lain”

“Ya saya sendiri gak tau The Raid kayak gimana”

“Ya mas/Anda/kamu kan mahasiswa, harusnya bisa ngomong yang bener...”

Saat Suami masih berusaha menjawab penjelasan gue, si Tante berteriak memanggil security. Gue meneruskan pembicaraan gue dengan Suami, hingga akhirnya security datang dan meminta gue untuk keluar dan bertemu sang manajer. Gue menyelesaikan kalimat gue ke Suami sebelum keluar bersama security.
Saat gue turun, salah seseorang dari kubu keluarga (yang pasti bukan si Suami) menyempatkan waktu untuk berteriak “Rhoma Irama!” (yang sepertinya diniatkan sebagai sebuah ejekan) ke gue.

(Biru memberitahu gue kalau setelah gue keluar, ada suara laki-laki dari barisan belakang, yang mengatakan “Tapi memang filmnya brutal, sih.”)

Gue keluar teater satu untuk bertemu dengan manajer 21 Jatos di sebuah ruangan kecil di samping loket tiket. Dengan santai bapak manajer menyambut gue dan meminta gue untuk bercerita tentang apa yang terjadi di dalam teater tadi sambil memberi segelas air putih. Gue pun menceritakan apa yang terjadi di dalam teater—dari sudut pandang gue, menjelaskan bahwa Berandal dirasa tidak cocok untuk ditonton oleh anak-anak, dan mengakui bahwa dua teman gue memang terlalu keras dalam mengomentari kubu keluarga tersebut.

Bapak manajer menjawab cerita gue dengan senyum dan sedikit tertawa, dan menjelaskan bahwa ia mengira ada masalah pada kursi atau kenyamanan penonton, dan mengatakan bahwa reaksi kubu keluarga tersebut ada di luar perhitungan dia. Ia melanjutkan cerita bahwa Berandal sendiri sudah menjadi pembicaraan di grup BBM pengurus 21, dan sering diperingatkan bahwa film tersebut bukan untuk anak kecil, ia menambahkan kalau sudah sering ada orangtua yang membawa anaknya menonton film yang terhitung sadis, dengan alasan “karena saya temani”. Tidak hanya itu, terkadang ada anak kecil yang mau membeli tiket film yang terhitung sadis, dengan alasan “sudah diperbolehkan orangtua”, walaupun untuk hal ini, pihak bioskop berani untuk menolaknya.

Setelah beberapa menit bercerita, sang manajer menganggap gue bukan sebagai orang yang membuat keonaran dan sambil berjalan keluar untuk diantarkan ke dalam teater oleh security, ia mengeluarkan satu-dua komentar yang kira-kira berbunyi seperti ini: “Namanya juga orang tua”, “Hanya karena mereka tua bukan berarti mereka dewasa”, “Paling yang kayak gini juga kualat”, dengan penutup “Udah, habis ini balik ke dalam, nonton, dan semoga gak ada masalah saat keluar nanti.”

Saat berjalan ke dalam teater, si security sempat bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Kembali gue ceritakan apa yang sudah gue ceritakan, untuk dijawab dengan senyuman oleh si security.

DAN AKHIRNYA guepun bisa melanjutkan menonton Berandal walaupun agak tertinggal beberapa menit (dan mata gue kembali berkaca-kaca di dua adegan yang sama).

Saat menonton film, gue bisa mendengar beberapa reaksi dan komentar dari kubu keluarga (kecuali si Suami) mengenai Berandal:

Mereka kaget di adegan pembuka.

“Si bodoh nih.” Kata si Ibu dalam menggambarkan Baseball Bat-man, sepertinya karena menggunakan bahasa isyarat.

“Mah, mau bobo” dan “Mah, udah...” ucap si Cilik di dua waktu yang berbeda, untuk kemudian diminta diam oleh sang Ibu.

“Mau belajar silat, ah.” kata sang Ibu saat Rama dan assassin mengambil kuda-kuda sebelum memulai pertarungan terakhir.

Tidak lupa sang Ibu bersikap provokatif kepada anaknya di beberapa adegan baku-hantam, di mana sang Ibu tidak memberi tanda-tanda untuk melarang anaknya melihat adegan eksplisit.

Saat film selesai, kubu keluarga menyempatkan waktu mereka untuk sepertinya melihat kubu gue dan teman-teman secara lebih jelas dengan lampu yang sudah menyala.

UNTUNGLAH tidak ada konflik lagi dan gue bisa kembali ke kamar kost dengan tenang untuk menulis pengalaman gila tadi di blog gue.

Well, that’s the story. Thank you for your time!

Sebagai seorang pengguna Twitter, gue sudah sering membaca tweet mengenai orangtua yang membawa anaknya menonton film sadis. Pengalaman ini adalah pertama kalinya gue melihat secara langsung keluarga yang membawa anaknya untuk masuk menonton Berandal. Jujur, gue sendiri terganggu dengan keputusan yang mereka ambil, tapi gue tidak seberani dua teman gue yang mengomentari keputusan mereka itu (dengan keras).

Dari kejadian ini gue hanya terganggu oleh dua hal: Suami yang secara terang-terangan mengakui tidak tahu apa-apa mengenai Berandal, dan orang tua yang mengharapkan gue dan teman-teman untuk bersikap sopan, dengan cara berteriak-teriak dan membiarkan anak-anak mereka berkata kasar.

Gue hanya berharap tidak ada anak mereka yang celaka akibat meniru adegan-adegan di Berandal.

“Eh tapi aku kayaknya harus minta maaf ke mereka, deh. Soalnya aku salah, mereka emang pantas nonton The Raid, karena ya gitu, keluarga mereka se-Berandal itu.” Ucap Biru saat berjalan pulang.


1 comment: