Friday, May 23, 2014

Edge of Tomorrow - Live. Die. Repeat. Review


Title: Edge of Tomorrow - Live. Die. Repeat.

Platform: iOS/Android

Size: 107 MB

Mengikuti langkah Godzilla: Strike Zone, Warner Bros. kembali merilis sebuah game mobile/sneak-peek/trailer interaktif dalam menyambut perilisan Edge of Tomorrow di bioskop.

Edge of Tomorrow sendiri adalah sebuah film adaptasi light novel Jepang dengan judul All You Need is Kill yang berkisah tentang seorang prajurit yang terjebak dalam sebuah siklus hidup-mati-hidup dalam perang melawan alien bernama Mimic.

Now, about the game...

Edge of Tomorrow - Live. Die. Repeat. (selanjutnya akan gue singkat sebagai EoT) adalah sebuah game FPS (First Person Shooter) yang sederhana. Pemain hanya perlu bergerak dari satu titik menuju titik lainnya yang sudah ditentukan.


Seperti kebanyakan FPS di smartphone lainnya, EoT memiliki konfigurasi pengedalian yang serupa: layar sebelah kiri untuk menggerakkan karakter, layar sebelah kanan untuk menggerakkan kamera. Selain itu, pemain dapat memilih senjata apa yang akan digunakan—machine gun, grenade launcher, rocket launcher, dan sniper—di kanan atas layar.

Yang membedakan EoT dengan FPS mobile lainnya adalah: pemain tidak perlu menyentuh tombol virtual untuk menembak. Cukup arahkan senjata ke arah musuh dan senjata yang sedang digunakan akan otomatis menembak. Sebuah sistem yang menarik dan dapat dikatakan mengurangi satu kekurangan yang biasanya ada di FPS mobile.


Objek yang tiba-tiba meledak, pesawat yang jatuh, alien yang muncul entah dari mana, dan berbagai macam hal lainnya, dapat membuat pemain merasakan suasana perang dan kekacauan dengan baik. Hal tersebut semakin menarik dengan sistem Live. Die. Repeat. yang menjadi highlight di filmnya.

Sistem Live. Die. Repeat. sendiri bukanlah hal yang baru dan dikenal sebagai sistem checkpoint di dunia video game. Saat pemain mati, mereka akan kembali ke titik tidak jauh dari lokasi mereka terakhir mati. Tentunya, hal tersebut sudah dimodifikasi sedikit, saat melewati lokasi yang sama, pemain dapat melihat sebuah cahaya merah atau putih yang menandakan hal yang terjadi di tempat itu sebelumnya. Modifikasi kecil, tetapi menarik.


Saat mencapai tujuan, pemain akan dihadiahi upgrade jika experience yang didapatkan sudah mencukupi. Menjadi sebuah alasan tersendiri untuk memainkan game ini lagi dan lagi.

Kekurangan terdapat analog virtual yang terkadang kurang responsif (tetapi tidak mengganggu pengalaman bermain secara keseluruhan)—yang sudah menjadi hal lumrah di ranah FPS mobile.

Conclusion:  Edge of Tomorrow - Live. Die. Repeat. merupakan sebuah produk-promosi-film-interaktif yang berskala kecil, namun tidak mengecewakan. Suasana perang melawan alien yang tersaji dengan baik dan cerita yang terintegrasi dengan filmnya (tanpa membuat spoiler) membuat game ini layak untuk dicoba.

No comments:

Post a Comment