Friday, May 16, 2014

Godzilla Review

Confession: Godzilla (1998) is not a bad giant-monster film, I saw it as kid and (that’s the reason why I) enjoyed it. The problem mostly came from the name “Godzilla” while the monster in the film itself has no any resemblance to any of Toho’s Godzilla which really—REALLY—angered the fans.

If the studio marketed the film as “America’s giant lizard film in the same universe as Godzilla” and changed the title into, anything but Godzilla, will it accepted better by the fans? I guess.

Fun fact: Toho own the trademark for the 1998 Godzilla and changed the name into “Zilla”.

Now let’s talk about the reboot, shall we? 


Title: Godzilla (2014)

Director: Gareth Edwards

Cast: Bryan Cranston, Ken Watanabe, Aaron Taylor-Johnson, Elizabeth Olsen

(Minor spoilers ahead)

Synopsis: Godzilla, predator terkuat bumi, bangun dari tidur lamanya untuk menyeimbangkan alam dari kekacauan yang diakibatkan oleh bangkitnya parasit purba raksasa.

Review: Pertama, perlu gue beri tahu bahwa kenikmatan menonton film ini teramat terbantu dengan marketing yang dilakukan, di mana dari trailer yang sudah diberikan, tidak ada satupun yang membocorkan jalan ceritanya (sebuah hal yang jarang ditemui untuk film-film Summer Blockbuster). Jadi, bersiaplah untuk terkejut.

Pengaitan Godzilla dengan peristiwa bersejarah disajikan dengan baik dan menghasilkan origin yang menarik. Selain itu, penjelasan masing-masing monster melalui ilmu pengetahuan dapat diikuti dengan mudah, dan memberi latar belakang yang sederhana namun kuat. Keduanya menjadikan film ini ‘masuk akal’ dan semakin menarik untuk diikuti.

Sutradara Gareth Edwards memiliki cara tersendiri dalam memperlihatkan bintang utama film ini agar terkesan lebih megah. Yakni dengan memperlihatkan monster secara sedikit-sedikit terlebih dahulu, entah hanya badannya, kakinya, atau mungkin ekornya, hingga akhirnya memperlihatkan monster secara keseluruhan di klimaks film.



Kemegahan tersebut dibantu dengan banyaknya penggunaan sudut pandang manusia dalam melihat monster. Sudut pandang di sini tidak secara harafiah melihat melalui mata manusia (meski memang hal tersebut dilakukan beberapa kali), melainkan melihat dalam arti “bagaimana manusia bereaksi terhadap monster jika benar-benar ada di dunia nyata”. Dan hal tersebut sangat efektif membangun rasa penasaran penonton.


Pertarungan terakhir adalah puncak dari segala godaan yang dilakukan sang sutradara dari awal film dengan duel antar monster di tengah reruntuhan kota yang gelap dan dipenuhi asap. It’s the best giant monster movie experience I’ve ever got.

Kemunculan tokoh-tokoh manusia di sini tidak berdampak besar, namun tetap menarik untuk diikuti. Bryan Cranston dan Aaron Taylor-Johnson sudah dapat memerankan tokoh dengan baik. Kecuali pada karakter yang diperankan Elizabeth Olsen dan Ken Watanabe, terasa masih ada potensi yang dapat digunakan ketika dua tokoh ini muncul dilayar, tetapi tidak dimaksimalkan.


Uniknya, emosi dapat lebih terasa pada monster yang ada di film ini baik dari gerak-gerik, suara yang dihasilkan, dan beberapa tingkah laku lainnya, dibanding pada reaksi manusia yang ada di film ini.

Conclusion: Godzilla is a Godzilla movie done right. Satu demi satu adegan tersusun rapi untuk akhirnya ditutup dengan pertarungan yang teramat menarik untuk diikuti. Dengan sinematografi yang berbeda dari Summer Blockbuster lainnya, Godzilla merupakan sebuah pengalaman menarik yang teramat sepadan dengan biaya yang dikeluarkan untuk menonton film ini di bioskop.


Sekedar saran, datanglah sebagai penonton yang ingin menikmati film “manusia melawan alam”, bukan sekedar “monster melawan monster”, it really helps you contain your expectation.


(sumber gambar: Empire)

No comments:

Post a Comment