Saturday, May 3, 2014

The Amazing Spider-Man 2 Review

[Just an opening, skip this if you want to go straight to the review]
Waktu pertama kali melihat berita mengenai reboot The Amazing Spider-Man, gue sedikit bersyukur karena berarti tidak perlu ada kelanjutan Spider-Man 3. Tapi setelah melihat trailer dan kostum The Amazing Spider-Man, gue menjadi tidak tertarik dan bahkan memutuskan untuk tidak menontonnya di bioskop.
Kemudian setelah beberapa lama, mumpung senggang, gue menonton The Amazing Spider-Man melalui salah satu channel di Tv berlangganan. Dan... gue teramat bersyukur memilih untuk  tidak menonton film tersebut di bioskop.

Kostum adalah hal utama yang mengganggu gue dari awal. Memang teramat subjektif, tapi, entahlah, rasanya kombinasi warna yang dipilih (terutama warna biru muda yang digunakan), desain ‘mata’ yang membuat kepala Spidey terlihat seperti alien, dan ‘tekstur bola basket’ yang ada pada kostumnya teramat tidak nyaman untuk dilihat.

Kemudian, dari segi cerita. To put it simply, it’s just too damn mediocre. I realized the fact that this Spidey is more Spidey than the last (how he moves, how he talks, how he cracks jokes) but, that’s it. The villain is so mediocre and the story is forgettable.

The Amazing Spider-Man is disappointing.

[Opening ends here]

So, how’s The Amazing Spider-Man 2?



Title: The Amazing Spider-Man 2 (2014)

Director: Marc Webb

Cast: Andrew Garfield, Emma Stone, Jamie Foxx, Dane DeHaan

(Minor spoilers ahead)

Synopsis: The Amazing Spider-Man 2 atau The Amazing Spider-Man 2: Rise of Electro (TASM2) melanjutkan kisah Peter Parker (Andrew Garfield) dalam melindungi kota New York dan Gwen Stacy (Emma Stone) sebagai Spider-Man. Kali ini, ancaman datang dari seorang penjahat berkekuatan listrik yang bernama Electro (Jamie Foxx).

Review: Feel komik sudah dapat terasa dari adegan waktu pertama kali Spidey muncul di layar. Cara bertarung yang dilakukan Spidey, lelucon yang dikeluarkan, hingga interaksinya dengan warga New York, terasa semakin menarik (hal ini dibantu dengan kostum yang sekarang sangat mendekati versi komiknya).

Misteri dan konspirasi menjadi fokus utama di TASM2. Terlihat dengan adegan flashback (yang agak panjang) di awal yang memperlihatkan nasib orangtua Peter yang sempat menjadi misteri di TASM, kemudian berlanjut menjadi sebuah rangkaian panjang yang akhirnya berpengaruh ke Peter/Spider-Man.

Adegan drama mendapat durasi yang lumayan panjang. Hubungan Peter dan Gwen menjadi highlight utama film ini. Mereka berdua terlihat amat serasi dan cocok, dan dapat memperlihatkan naik-turunnya sebuah hubungan percintaan dengan baik. Selain itu, hubungan Peter dengan Aunt May juga dipererat walaupun tidak sebaik Peter-Gwen.

Dengan banyaknya drama dan konspirasi yang dimasukkan, adegan aksi terkena imbasnya. Secara kasar dapat dikatakan bahwa kita akan melihat Spidey bertarung hanya sekitar ¼ durasi film. Walaupun begitu, adegan bertarung tersebut disajikan dengan baik sehingga menarik dan menghibur. Terutama penggunaan slow-motion untuk menekankan kemampuan spider-sense milik Spidey.

Membahas villain yang ada di film ini, Electro merupakan seorang villain yang unik, di mana origin yang ia miliki dapat membuat penonton iba dan tidak 100% mendukung Spidey untuk mengalahkannya. Perjalannya menjadi sebuah ancaman bagu Spidey merupakan sebuah hal yang menarik untuk diikuti, hal yang jarang terjadi pada sebuah film bertema super-hero belakangan ini.

Berbeda halnya dengan Harry Osborn (yang diperankan oleh Dane DeHaan dengan sangat apik). Walaupun memiliki origin yang sama-sama bisa membuat iba, tetapi keputusasaan dan kegilaan yang dimiliki oleh karakter tersebut memerlihatkannya sebagai sebuah ancaman besar bagi Spider-Man.

Tentunya, film ini tidaklah tanpa kekurangan. Durasi (yang selama 142) terasa lambat terutama dengan adegan drama dan misteri yang agak lama. Hal ini ditambah dengan fakta bahwa Andrew Garfield dapat memerankan Spider-Man dengan sangat baik, tetapi tidak sebagai Peter Parker—ditambah sutradara yang memfokuskan film lebih kepada Gwen Stacy serta kebangkitan musuh-musuh Spider-Man.

sumber

Hubungan Peter-Gwen pun juga menjadi kekurangan tersendiri akibat begitu cepatnya perubahan dari romantis menjadi cheesy. Begitu juga pertemanan Peter-Harry yang terasa kurang tergali lebih dalam, menarik di awal, tetapi terasa setengah matang.

Sentuhan menarik ada pada Spidey yang terkadang mengalami halusinasi akibat kematian karakter penting di film sebelumnya, tetapi sayangnya tidak memberikan dampak yang besar di film ini (hanya sekedar lewat).

Adegan pertarungan yang memaksimalkan penggunaan CGI terasa sedikit mengganggu karena jelasnya penggunaan animasi komputer pada beberapa adegan, sertai gerakan Electro yang agak terlihat canggung dalam bentuk live-action.

Kekurangan lainnya ada pada keseluruhan film. Di mana terlihat film ini sebagai ‘jembatan’ untuk sebuah proyek besar selanjutnya, sehingga apa yang ada pada film ini terasa ‘setengah matang’ yang disengaja. Terutama pada Electro yang seberbahaya apapun dia diperlihatkan, hanya sekedar villain pengisi.

Kemballi ke masalah durasi, 142 menit yang sudah terasa lambat itupun masih terasa perasa ‘penuh’ dengan segala hal yang dimasukkan ke dalam satu film ini. Cara mengakhiri film yang ‘unik’pun dapat mengecewakan banyak penonton, walaupun untuk gue pribadi, menjadi sesuatu yang menarik.
   
Conclusion: The Amazing Spider-Man 2 adalah sebuah sekuel yang setingkat lebih baik, tetapi terasa kurang matang dengan banyaknya cerita dan permasalahan yang dimasukkan ke dalam satu film, ditambah fakta bahwa film ini tidak lebih menjadi sebuah ‘jembatan’ untuk proyek selanjutnya yang kemungkinan akan lebih besar dan megah. Apresiasi patut diberikan bagi para aktor yang dapat mendalami karakternya masing-masing dan hiburan yang bisa diberikan film ini terutama bagi para fans Spider-Man. Dan untuk mereka yang menikmati Spider-Man baru dari film-film-nya, bersiaplah untuk terkejut.




p.s. Pujian gue berikan untuk kru film yang bisa mengadaptasi satu adegan komik (for all the fans, you know what I’m talking about) ke dalam bentuk film dengan sangat baik tanpa perlu didramatisasi secara berlebih.

No comments:

Post a Comment