Saturday, September 27, 2014

The Maze Runner Review

Hi, hello! Sorry for the long hiatus for *some* reasons. Well, anyway, I'm (hopefully) back now, with the review of The Maze Runner for a start.

"So, how is it? Is it good?"

Well, buddy, you're gonna read my review for that.

Note: Just like any other young-adult novel adaptation out there, I haven't read any of the book. So this is me, reviewing the movie, and only the movie.


Title: The Maze Runner (2014)

Director: Wess Ball

Cast: Dylan O'Brien, Aml Ameen, Thomas Brodie-Sangster, Ki Hong Lee

(Minor spoilers ahead)

Synopsis: Thomas (Dylan O'Brien), seorang anak laki-laki tanpa ingatan, terbangun di sebuah elevator yang sedang berjalan. Sesampainya di tujuan, ia tiba di sebuah ladang hijau berisi komunitas kecil bernama Glade, dengan tembok tinggi besar di sekeliling tanpa jalan keluar kecuali empat gerbang menuju labirin yang penuh misteri.

Review:  Penonton diposisikan sebagai Thomas semenjak film dimulai. Seseorang yang tidak tahu apa-apa, kebingungan, dan tiba-tiba sampai di sebuah komunitas kecil yang sudah dibangun sejak sekian tahun dan memiliki sistemnya sendiri. Dari situ, penonton bersama Thomas mempelajari berbagai hal baru secara perlahan. Masa lalu suatu karakter, misteri serta jawabannya, hingga pada akhirnya, rahasia dibalik labirin itu sendiri.

Meski The Maze Runner mengambil sudut pandang Thomas sebagi karakter utama, kehadiran pemain lainnya, bahkan figuran sekalipun, tidak terasa sia-sia. Tiap karakter mendapat durasi yang pas dan cukup, sekaligus memperlihatkan sifat dan pola pikir mereka. Bahkan bisa dikatakan tidak ada karakter yang lebih menonjol dibanding karakter lainnya.

Beragamnya etnis pemain sangat membantu membangun suasana film menjadi lebih menarik. Dibantu dengan fisik para pemainnya yang terlihat sesuai dengan tema yang ditawarkan, membuat The Maze Runner terasa berbeda dengan beberapa film adaptasi novel young-adult lainnya.



Interaksi antar penghuni Glade, walaupun minim, terasa meyakinkan. Melalui beberapa hari (dalam film), kita dapat melihat sistem diberlakukan di Glade dan meski tanpa flashback sekalipun—hanya berdasarkan obrolan antar karakter, penonton dapat mengetahui masa lalu beberapa tokoh penting, serta apa saja yang pernah terjadi dan mereka hadapi di komunitas kecil tersebut.

Labirin yang menjadi ‘bintang utama’ di film ini sayangnya tidak terlalu dijelajah secara mendalam. Ya, penonton dapat mengerti sistem dan bahaya yang ada dari labirin tersebut, tetapi secara kasar, dapat dikatakan bahwa kita hanya akan melihat sepertiga dari keseluruhan labirin—yang sesungguhnya teramat luas. Tentunya hal tersebut bukan masalah besar, mengingat terbatasnya durasi sehingga sutradara harus memfokuskan film pada tema petualangan.

Sayangnya, segala petualangan seru di dalam labirin tersebut, diputarbalikkan melalui ending yang diberikan.



Kelemahan paling besar dari The Maze Runner terdapat pada ending—dan hal tersebut terasa sangat, sangat menyebalkan. Memang, sudah terdapat petunjuk di sana-sini mengenai “rahasia besar” dari labirin yang ada, tetapi eksekusi yang dilakukan di akhir sangat merusak suasana yang dibangun dari awal film.

Di satu sisi, ending The Maze Runner menjawab beberapa pertanyaan besar yang muncul sejak awal film sekaligus membuka fakta yang menarik tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tetapi di sisi lain, terlalu banyak karakter baru yang muncul begitu saja, serta aksi yang terkesan dipaksakan, demi menyambung cerita ke arah yang lebih luas.

Dan dari segala cara yang bisa dilakukan, The Maze Runner, sayangnya (lagi), ditutup dengan sebuah pesan secara langsung ke penonton, bahwa suatu hari nanti mereka akan kembali ke bioskop untuk menonton sekuel dari film ini.

Conclusion: The Maze Runner is interesting enough for its dark tone, diverse cast, and not-too-stand-out main character. With the right balance of mystery, revelation, and even horror , it’s an enjoyable movie to watch.

Sadly, it all fall apart right in the end. Leaving you with a bad taste on your way leaving the cinema.

(and you may end up questioning: “What the fuck did just happen?”)


(sumber gambar: 1, 2)

No comments:

Post a Comment